Archive for the 'Tanggung jawab sosial perusahaan' Category

Tanggung jawab sosial PT. HPAM

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PROSES
PASCATAMBANG DI KENDAWANGAN
Ketika potensi masyarakat dijadikan sebagai peluang (hasil kunjungan lapangan)

Pembangunan dan industrialisasi di mana pun, tak terkecuali di wilayah Kendawangan sesungguhnya selalu akan melahirkan sejumlah dilema. Di satu sisi industrialisasi diharapkan dapat menjadi jalan keluar dan pintu terobosan untuk mempercepat upaya penanggulangan kemiskinan dan keterbelakangan. Tetapi, di sisi yang lain industrialisasi dan investasi berbagai kekuatan komersial ternyata seringkali malah melahirkan proses marginalisasi, kerusakan ekologis dan tidak berkesesuaian dengan kebutuhan masyarakat lokal. Laporan berikut ini dibuat untuk menghilangkan adanya dilema serta anggapan bahwa industrialisasi selalu melahirkan proses marginalisasi, kerusakan ekologis dan tidak berkesesuaian dengan kebutuhan masyarakat lokal.

A. Lokasi dan Kondisi

Kendawangan adalah salah satu dari 15 kecamatan yang berada di wilayah kabupaten Ketapang. Dengan luas wilayah sebesar 5.859 km Kendawangan memiliki 9 desa dan terbagi lagi menjadi dusun-dusun. Berdasarkan informasi dari salah satu karyawan menyebutkan bahwa aktifitas dari pertambangan PT. HPAM membawa dampak langsung terhadap 3 desa yaitu : Mekar Utama (kadesnya : Yadi Warsono), Kendawangan kiri (kadesnya : Andoriyadi), Banjarsari (kadesnya : Jainuri). Salah satu dari dusun tersebut adalah dusun Cempedak dan dusun Sukaria yang kami kunjungi pada saat berada di site kendawangan. Dusun Cempedak terletak di sebelah barat base camp kendawangan. Dusun ini berada di daerah pegunungan sehingga berhawa cukup dingin. Sedangkan dusun Sukaria berada disebelah Utara base camp Kedawangan. Kedua daerah ini sangat mudah untuk dijangkau, selepas dari Ketapang perjalanan dilakukan dengan menggunakan mobil sampai ke lokasi. Curah hujan tinggi sehingga kelembaban udara cukup tinggi.

Masyarakat yang mendiami daerah ini didominasi oleh suku dayak Ahe. Sebagian besar dari mereka beragama Kristen. Masuknya agama formal pada masyarakat dayak dilatar belakangi oleh beberapa sebab diantaranya adalah pemarginalan agama yang terjadi khususnya pasca perubahan politik pada tanggal 30 september 1965 (Gerakan 30 S). Dalam makalah yang dibuat oleh Johan Weintre menyebutkan bahwa pada saat itu religi memang terkait dengan kebijakan pemerintah Republik Indonesia. Tiap penduduk didorong untuk menganut Ketuhanan Yang Maha Esa yang berarti menjadi pengikut ajaran Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha. Sedangkan perkembangan agama Kristen di wilayah ini banyak dipengaruhi oleh kedatangan lembaga keagamaan yang berlatarbelakang pemberdayaan masyarakat (CRS). Walaupun mengaku sebagai masyarakat adat, ditandai dengan adanya ketua adat namun kegiatan dalam keseharian dan ritual-ritual yang bersangkut paut dengan adat telah banyak berkurang. Hal ini mungkin disebabkan interaksi dengan masyarakat luar yang semakin terbuka.

Seperti kita ketahui, bahwa interaksi sosial yang intens dengan masyarakat luar dan budayanya dapat membawa dampak yang positif maupun dampak yang negatif. Sebagai contoh dampak positif adalah dengan semakin tingginya tingkat pendidikan masyarakat, semakin terbukanya informasi sehingga pengetahuan masyarakat bertambah, serta pola pikir yang semakin terbuka. Sedangkan dampak negatif yang tampak adalah bergesernya nilai-nilai budaya yang mengikuti pola masyarakat yang dianggap sudah maju. Sebagai contoh tidak lagi nampak di dusun ini ornament maupun ukiran yang mencerminkan ciri khas masyarakat dayak, sudah semakin menipisnya sesuatu hal yang dianggap tabu, mulai lunturnya norma-norma yang ada dalam masyarakat sehingga masyarakat hidup semakin bebas. Hal yang sangat memprihatinkan adalah hilangnya bahasa lokal mereka, dalam percakapan sehari-hari masyarakat hanya menggunakan bahasa Indonesia atau yang lebih mirip dengan bahasa melayu bahkan ada beberapa kalimat yang mirip dengan bahasa jawa. Generasi muda sudah tidak lagi mengerti bahasa ibu mereka sedangkan generasi tua walaupun mereka memahami bahasa asli mereka namun mereka sudah tidak menggunakannya.

Dalam Kongres Bahasa-bahasa Daerah Wilayah Barat di Bandar Lampung, Selasa (13/11). Disebutkan sebanyak 726 dari 746 bahasa daerah di Indonesia terancam punah karena generasi muda enggan memakai bahasa tersebut. Bahkan, kini hanya tersisa 13 bahasa daerah yang memiliki jumlah penutur di atas satu juta orang, itu pun sebagian besar generasi tua. 13 bahasa daerah yang jumlah penuturnya lebih dari satu juta penutur adalah Bahasa Jawa, Bahasa Batak, Sunda, Bali, Bugis, Madura, Minang, Rejang Lebong, Lampung, Makassar, Banjar, Bima, dan Bahasa Sasak. Salah satu faktor penyebab terjadinya penurunan jumlah penutur adalah akibat pengaruh budaya global. Pengaruh budaya itu menyebabkan generasi muda lebih suka berbicara dengan menggunakan bahasa nasional Bahasa Indonesia, sesekali diselingi dengan menggunakan bahasa asing, daripada dengan bahasa daerah. (Kompas, 14 November 2007)

Tingkat kesejahteraan masyarakat didusun ini masih rendah tapi dari fisik perumahan terlihat adanya gejala peningkatan (gambar I). Akses terhadap informasi juga cukup baik, terlihat pada beberapa rumah memiliki televisi lengkap dengan parabola.

dscn3161.jpg

(Gambar I)
Kondisi rumah-rumah di dusun Cempedak dan Sukaria

Fasilitas kesehatan serta pendidikan juga sudah mulai ada peningkatan, Puskesmas ada di kecamatan Kendawangan, selain itu ada juga klinik perusahaan yang dibuka untuk masyarakat umum. Perusahaan juga membangun beberapa sekolah dasar didaerah yang terkena dampak.

Transportasi dari dan ke dusun-dusun ini lancar, juga pada saat musim hujan, karena sudah ada jalan beraspal (jalan propinsi) yang sangat baik. Dusun ini dapat dicapai sekitar 2 jam dari Ketapang dengan menggunakan mobil. Sebagian besar masyarakat juga telah memiliki sepeda motor untuk mobilisasi mereka sehari-hari sehingga sangat dimungkinkan untuk dibukanya bengkel sepeda motor karena bengkel terdekat berada di Kendawangan

dscn0347.jpg

(Gambar II)
Kondisi jalan didusun Sukaria

B. Pola bertani dan karet

Pertanian masyarakat dusun Cempedak dan Sukasari masih belum bergerak pada pola komersial. Hasil panen padi masih digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ladang biasanya bercampur dengan tanaman sayur-sayuran yang juga tidak dikomersialkan hasilnya. Masyarakat setempat mengenal adanya kearifan lokal dalam hal penanaman padi, misalnya:
1. Adanya aturan yang melarang memanen padi dengan menggunakan mesin
2. Padi tidak boleh ditanam ditanah yang bercacing karena tidak akan bisa hidup. Secara teoritis tempat hidup cacing adalah ditanah yang lembab dan kurang sinar matahari jadi memang padi tidak bisa tumbuh
3. Didalam satu keluarga dengan satu periuk didapur tidak diperbolehkan
mempunyai atau membuka lahan yang berbeda

Penanaman padi bisanya dilakukan secara gotong royong atau yang dalam bahasa masyarakat disebut sebagai “Ngari” dalam proses ini satu bidang lahan milik salah satu warga dikerjakan oleh beberapa keluarga kemudian bergilir pada bidang lahan yang lain begitu seterusnya jika sudah selesai dengan lahan yang satu akan berganti pada lahan milik keluarga yang lain. Pola pengerjaan lahan ini sangat efektif dan efisien karena lebih cepat selesai dan tidak membutuhkan banyak biaya karena para pekerja tidak dibayar dengan uang melainkan hanya dengan makanan.

Dalam proses ini laki-laki dan perempuan bekerja bersama-sama dan ada pembagian peran disana. Para laki-laki berperan untuk membuat lubang ditanah dengan menggunakan sebatang kayu yang ujungnya lancip sedangkan para perempuan berada dibelakang laki-laki dan bertugas memasukkan biji padi kedalam lubang yang telah dibuat dan menutupinya dengan tanah kembali. Berbeda dengan cara bercocok tanam padi disawah yang dengan cara mundur kebelakang, bercocok tanam padi diladang dilakukan dengan cara maju.

Sistem lahan yang digunakan dalam bertani adalah sistem perladangan berpindah. Berbagai metode pembukaan lahan telah dikenal lama oleh masyarakat salah satunya adalah metode tebang dan bakar (slash and burn). Menurut Onrizal Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara menyebutkan “teknik ini sering kali digunakan karena dianggap lebih murah, cepat dan praktis dibandingkan dengan teknik tanpa bakar”. Namun seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya pengelolaan sumberdaya alam dan kegiatan pembangunan tanpa merusak lingkungan pada beberapa dekade terakhir, serta isu penurunan kualitas sumberdaya alam dan lingkungan yang semakin cepat dan pencemaran asap diudara dikaitkan dengan pembakaran dalam pembukaan lahan maka berbagai upaya dilakukan untuk mencari metode alternatif untuk pembukaan lahan yang lebih baik.

Selain padi, salah satu komuditas yang menjadi andalan pertanian adalah karet. Karet adalah komuditas utama masyarakat Cempedak dan Sukaria. Namun sayang keberadaan karet sempat ditinggalkan oleh warga karena pada saat ini mereka lebih memilih untuk bekerja pada perusahaan. Sebenarnya peran karet sangat penting sebagai sumber penghasilan bagi masyarakat, pada saat ini harga karet mencapai Rp 5.000,- perkilogram tergantung kualitasnya. Dengan demikian tidak mengherankan jika masyarakat dapat menggantungkan hidupnya pada tanaman ini. Fadjar Pambuhi seorang peneliti dari Centre for Social Forestry (CSF) dalam esainya tentang “masyarakat dayak meratus dan karetnya” menyebutkan bahwa umumnya masyarakat dayak memiliki banyak kebun karet. Mereka yang sudah dewasa mempunyai kebun karet yang jumlahnya bisa mencapai lebih dari lima buah, dengan luas sebesar 1,5 sampai 3 hektar perkebun. Fadjar menambahkan, berapa banyak kebun karet yang dimiliki masyarakat sesungguhnya sukar untuk diketahui karena mereka enggan untuk menyebutkannya. Keengganan ini disebabkan “ketakutan” akan pajak yang bisa dibebankan pada mereka.

Penanaman karet telah dilakukan puluhan tahun yang lalu. Jenis yang ditanam adalah jenis lokal bukan jenis unggul seperti yang dilakukan oleh proyek-proyek penanaman karet. Dari informasi masyarakat, jenis karet ini terus menghasilkan dan hasilnya cenderung meningkat asalkan penyayatan dilakukan dengan benar. Sayang kebun-kebun karet yang dimiliki masyarakat saat ini ditanam dengan pola tanam yang kurang teratur, terlalu rapat, tidak dirawat dan penyayatan yang dilakukan kurang baik sehingga hasil yang diperoleh kurang maksimal. Untuk menjual hasil karet, masyarakat tidak perlu jauh-jauh pergi ke pasar atau tempat penampungan terdekat, namun para pengepul yang datang ke dusun ini.

Seperti sudah dijelaskan diatas bahwa potensi pertanian dan peternakan didaerah ini sangat baik dan dapat dikembangkan menjadi kegiatan yang mendukung perekonomian masyarakat pada saat pasca produksi nantinya. Kesempatan ini ditangkap oleh perusahaan sebagai suatu peluang yang dapat dikembangkan dalam program pemberdayaan masyarakat terutama dalam program persiapan pasca tambang di kendawangan. Untuk melaksanakan program ini tentu saja perusahaan dalam hal ini divisi Community Development harus bekerja sama dengan bagian Lingkungan (reklamasi).

Untuk mendukung program pengembangan masyarakat dibidang pertanian, saat ini telah siap lahan hasil reklamasi yang bisa digunakan untuk lahan pertanian. Berdasarkan hasil sosialisasi dengan warga diperoleh kesepakatan bahwa lahan reklamasi tersebut ditanami tanaman karet sebagai komoditas mereka. Pada saat ini sekitar 6 hektar lahan reklamasi telah disiapkan dan sudah ditanami bibit karet serta kurang lebih 10 hektar lagi sedang dalam persiapan. Dengan pola tanam 4×6 meter, dalam satu hektar lahan dapat ditanami 417 bibit pohon karet. Perhitungan secara kasar apabila satu pohon mampu manghasilkan 1 ons getah karet perhari maka penghasilan perhari masyarakat sebesar Rp 208.500,- perhektar dengan asumsi harga karet perkilo Rp 5.000,- sedangkan rata-rata masyarakat mendapatkan 6 hektar tiap KK. Berarti dalam sehari penghasilan kotor masyarakat sekitar Rp 1.251.000,- belum dikurangi dengan biaya lainnya. Paling tidak dengan penghasilan tersebut diharapkan masyarakat mampu berkembang ketika perusahaan tidak lagi berada didaerah ini.

Masa produksi tanaman karet adalah pada saat tanaman tersebut berdiameter 45 cm atau pada saat tanaman tersebut berumur 5 tahun. Sedangkan untuk menunggu waktu produksi tersebut diperlukan penghasilan lain bagi para petani, untuk itu dikembangkan juga tanaman lain yang diperkirakan dapat tumbuh dengan cepat sehingga bisa menjadi sumber penghasilan tambahan. Salah satu usaha yang dilakukan adalah dengan melakukan sistem tumpang sari pada lahan karet.

(Gambar III)
Lahan reklamasi yang telah siap dan sudah ditanami karet
didaerah dusun Cempedak

Pada saat kunjungan lapangan ini dilakukan, diperoleh data melalui observasi secara langsung bahwa bibit karet yang saat ini sedang ditanam menunjukkan pertumbuhan yang sangat bagus. Semua bibit yang ditanam tumbuh subur dan perkembangannya melebihi bibit karet yang ditaman ditempat lain oleh Dinas Pertanian. Berdasarkan hasil inilah, lahan reklamasi yang berada didaerah dusun Cempedak ini akan digunakan sebagai lahan Demplot (Demonstration Plot). Ide awal dari konsep demplot ini dilatar belakangi oleh keengganan masyarakat untuk kembali pada pola bercocok tanam karena sudah terbiasa bekerja diperusahaan. Demplot ini nantinya akan digunakan sebagai etalase bagi masyarakat sekitar maupun masyarakat luas sekaligus digunakan sebagai strategi dalam mengajak masyarakat untuk kembali mau bercocok tanam.

Selain tanaman karet yang dapat tumbuh dengan subur sebagai percontohan, demplot ini juga akan diterapkan pada tanaman holtus yang nantinya juga akan ditempatkan dilahan karet sebagai tanaman substitusi sebelum karet ini tumbuh dan menghasilkan. Strategi yang akan diterapkan dalam demplot ini adalah dengan mengajak salah satu penduduk yang saat ini sudah bersedia untuk bercocok tanam terlebih dahulu. Kita akan membina dan mendampingi petani ini sampai lahan yang dia kerjakan mendapatkan hasil yang baik kemudian pada saat panen nanti kita menggundang seluruh masyarakat untuk menyaksikan hasil panen yang luar biasa. Jika perlu kita juga akan mengundang bupati Ketapang untuk melakukan panen perdana.

Untuk mendistribusikan hasil panen tanaman holtus masyarakat setempat, dapat dilakukan dengan beberapa cara salah satunya adalah dengan cara menjual hasil panen tersebut pada perusahaan untuk memenuhi kebutuhan kantin makan karyawan dalam waktu dekat sebelum perusahaan berhenti beroperasi. Sedangkan cara lain menurut Bpk Lomboy ketua adat dusun Cempedak adalah dengan cara dijual pada tengkulak atau pengepul yang datang ke dusun-dusun. Beliau menjelaskan kadang para pengepul ini mau membeli apa saja yang ada di dusun.

C. Berternak

Berternak juga merupakan salah satu mata pencaharian masyarakat sebelum berpindah menjadi karyawan perusahaan. Selama ini beternak dilakukan dengan cara-cara yang masih sangat primitif, hewan ternak dilepas tanpa dibuatkan kandang dan diberikan makanan yang teratur setiap hari. Cara-cara berternak seperti ini diakui oleh Bpk. Mikip ketua adat masyarakat dusun Sukaria. Beliau menjelaskan bahwa masalah ternak atau hewan piaraan ini sering kali menjadi bibit permasalahan antar warga maupun antar tetangga karena hewan ternak yang dilepas sering kali memakan tanaman atau merusak kebun milik tetangga. Oleh sebab itu saat ini sedikit sekali masyarakat yang berminat untuk menjadikan peternakan sebagai mata pencaharian mereka.

Hewan ternak yang dikembangkan masyarakat adalah babi, ayam dan itik. Namum berdasarkan informasi dari Bpk Mikip ternak yang diminati oleh masyarakat adalah babi. Berbeda dengan masyarakat Papua yang menempatkan babi sebagai hewan yang memiliki nilai sosial yang tinggi karena budaya masyarakat memelihara hewan ini erat kaitannya dengan praktek adat istiadat dan upacara ritual setempat. Maka pada masyarakat Cempedak dan Sukaria usaha ternak babi dilakoni sebagai sumber pendapatan diluar pekerjaan utama mereka karena babi mudah untuk dipelihara, sangat cepat berkembang biak serta memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Harga daging babi perkilogaram pada saat ini adalah Rp 7.000,- untuk mengukur berat babi dengan cara ditimbang pada saat babi masih hidup sehingga dimungkinkan kita memperoleh keuntungan lebih besar karena isi perut juga ikut ditimbang. Untuk memperoleh babi dengan berat 25 – 30 kg diperlukan waktu 6 bulan, itu untuk babi jenis lokal. Sedangkan untuk babi impor atau yang sering disebut oleh masyarakat sebagai babi australia, hanya membutuhkan waktu 3 bulan untuk mencapai berat 60 kg.

Untuk memenuhi kebutuhan makanan ternak kita tidak perlu terlalu susah karena babi adalah hewan yang memiliki selera makan yang luar biasa. Cukup dengan ubi, keladi sungai ditambah dengan dedak yang mudah diperoleh dipasar serta sisa-sisa makanan dari kantin perusahaan sudah cukup untuk membuat babi kenyang. Kebiasaan makan babi yang rakus inilah yang sering kali menjadikan masalah antara sesama warga atau tetangga. Karena seringnya masalah yang ditimbulkan oleh hewan ini maka pada saat ini ternak babi sudah tidak dilepas lagi melainkan dengan dikandang untuk menjaga agar tidak timbul konflik dengan tetangga.

(Gambar IV)
Pengecekan kandang babi masyarakat oleh Comdev Advisor didampingi staf comdev dan staf HSE site kendawangan

Potensi peternakan ini dapat digunakan sebagai salah satu kegiatan dalam program pemberdayaan masyarakat pasca produksi nantinya. Usaha atau kegiatan yang dilakukan adalah dengan memberikan bantuan indukan pada salah satu masyarakat dimana setelah induk babi ini melahirkan kemudian indukan tersebut diberikan kepada masyarakat yang lain begitu seterusnya secara bergantian sampai seluruh warga mendapatkan atau memiliki babi.

Ir. Dadam A Syukur dalam tulisannya tentang tata cara berternak babi menjelaskan sebagai berikut :

BETERNAK
BABI

Usaha peternakan babi di Indonesia telah lama dikenal masyarakat. Agar usaha ini dapat memberikan keuntungan yang optimal bagi pemiliknya maka perlu diperhatikan beberapa hal yang menyangkut Manajemen pemeliharaan ternak babi, antara lain :

1. Seleksi Bibit
Ada beberapa jenis bibit babi antara lain :
Berksive, Chester White, Tamworth, Yorkshire, Sadleback, Hampshire, babi liar/celeng dll.

Ciri-ciri babi yang baik :
- Letak puting simetris.
- Ambing besar dengan saluran darah terlihat jelas.
- Tubuh padat dalam berisi.
- Kaki kotor dan tegap.

2. Pakan
Pakan untuk ternak babi dapat berupa jagung, shorgum, gandum, kacang kedelai, kacang hijau, umbi-umbian, tepung ikan dll.
Contoh susunan ransum babi :
a. Perode stater (0 – 11 minggu), protein 20 – 22 % dan sebaknya diberi skin milk dan jagung giling.
b. Periode Grower (10 – 24 minggu), protein17 % ditambah hijauan segar, mineral dan vitamin.
c. Penggemukan (sampai 10 bulan), protein14 % dan diberikan pakan yang berkualitas sehingga bisa mencapai berat badan + 100 kg.
d. Bibit, dengan protein 14 %, makanan yang berkadar serat tingi, dan hijauan segar tetapi ransum tidak perlu di masak.

3. Kandang dan Peralatan
a. Syarat Kandang
- Cukup mendapat sinar matahari, bersih dan kering.
- Ventilasi baik.
- Drainase di dalam atau di luar kandang harus baik.
- Dalam satu kandang, babi harus sejenis dan seumur.
b. Ukuran Kandang
- Anak babi 2,5 X 1,5 m/ekor.
- Babi pejantan 3 X 2 m/ekor.
- Kandang Penggemukan :
Berat 40 kg = 0,36 m/ekor, berat 40 -90 kg =0,50 m/ekor, dan berat lebih 90 kg = 0,75 m/ekor.

4. Tatalaksana Pemeliharaan
Yang perlu dalam siklus pemeliharaan teknis adalah sbb:
- Umur kawin pertama betina 10 – 12 bulan dan jantan 8 bulan .
- Umur melahirkan pertama + 14 bulan.
- Berat lahir 1 – 1,5 Kg
- Jumlah anak yang dilahirkan 7 – 14 ekor /induk
- Pertambahan berat badan perhari 450 – 500 gram
- Siklus birahi + 21 hari
- Lama kebuntingan lebih kurang 114 hari (3 bulan, 3 minggu, 3 hari )
- Kembali dikawinkan setelah melahirkan 5 – 7 hari setalah penyapihan
- Frekuensi melahirkan 2 x dalam setahun
- Umur dan berat jual 8 – 9 bulan, lebih kurang 80 – 100 Kg
- Kemampuan jantan untuk mengawini betina 2 – 3 ekor betina / hari dan 3x dalam1 minggu

Cara mengawinkan babi betina dimasukkan kekandang, pejantan dibiarkan bersama-sama dalam beberapa hari

5. kesehatan dan Pencegahan Penyakit
Dalam menjaga kebersihan kandang, kotoran babi harus ada penampungnya yang baik dan jauh dari kandang. Sistim pengairan dalam kandang harus baik dan dialirkan dalam bak penampungan yang jauh dari kandang . Beberapa penyakit yang sering menyerang ternak babi antara lain : Brucellosis, Kholera,
Penyakit Merah/Erisipelas, Anthrax, penyakit Ngorok, Scabies/Kurap dan Castro
Enteritis. Untuk mencegah penyakit dapat dilakukan vaksinasi secara teratur dan pemberian obat sesuai jenis penyakit yang menyerang.

6. Penanganan Panen / Pasca Panen
Untuk ternak babi biasanya dipanen dalam keadaan hidup dengan berat badan sesuai dengan phase pemeliharaan. Sebagian kecil ada yang dipotong di rumah potong khusus, biasanya ternak babi dipotong pada malam hari menjelang pagi.

7. Pemasaran
Pemasaran ternak babi untuk ekspor harus dalam keadaan hidup dan memenuhi kualitas yang diminta negara importir. Sebagian yang di pasarkan di pasar dalam bentuk daging dan kulit babi di tempat khusus

Panduan diatas adalah tata cara yang ideal tantang berternak babi, minimal dalam pelaksanaan program nantinya kita berpegang pada panduan tersebut namun langkah-langkah yang digunakan disesuaikan dengan kondisi lingkungan masyarakat sekitar.

D. Pembentukan kelompok mandiri sebagai suatu proses pemberdayaan

Kelompok masyarakat adalah sekumpulan anggota masyarakat yang dengan kesadaran dan keinginan sendiri bergabung untuk menjalankan sebuah kegiatan bersama. Oleh karena masyarakat di dusun Cempedak maupun Sukaria masih belum memiliki kesadaran dan keinginan untuk bergabung dan menjalankan sebuah kegiatan maka kita berusaha membantu menimbulkan keinginan tersebut dengan cara membentuk sebuah kelompok mandiri.

Sebagai langkah awal pembentukan kelompok mandiri ini adalah bertujuan melakukan kegiatan pemeliharaan bantuan genset dari perusahaan di dusun Sukaria. Ide pembentukan kelompok mandiri ini bermula dari pengalaman masa lalu yang memperlihatkan dua buah genset yang pernah diberikan oleh perusahaan kepada masyarakat tidak pernah dirawat dan pada akhirnya mengalami kerusakan. Dari sini dapat dilihat bahwa masyarakat tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap apa yang telah diberikan kepada mereka dan hanya menjadi tergantung kepada perusahaan. Kebiasaan ini akan membawa dampak yang tidak baik apabila nanti perusahan sudah tidak beroperasi didaerah tersebut.

(Gambar V)
Genset bantuan dari perusahaan untuk warga dusun Cempedak

Tujuan dari pembentukan kelompok mandiri ini adalah menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang bagaimana bertanggung jawab pada apa yang telah diberikan kepada mereka dengan cara memelihara dan merawat barang tersebut. Pembentukan kelompok mandiri ini dimulai dengan sosialisasi program ditingkat dusun dimana kegiatan akan dilakukan. Hal ini ditujukan untuk memberikan gambaran tentang apa yang akan dilakukan

Proses sosialisasi diperkirakan akan berjalan dengan tidak mudah terutama saat menyampaikan bahwa tidak ada bantuan untuk kelompok mandiri yang akan dibentuk, sehingga fasilitator (dalam hal ini staf comdev di site) harus mampu memberikan analisa kepada mereka akan kelebihan dari pendekatan program pembentukan kelompok mandiri ini. Satu kunci yang perlu dipahami oleh seorang fasilitator untuk memudahkan pelaksanaan sosialisasi adalah sebelum pelaksanaan kegiatan sosialisasi perlu melakukan pertemuan informal dengan aparat setempat dan pemuka masyarakat sehingga apabila kedua stake holder ini sudah paham akan memudahkan dalam sosialisasi di tingkat masyarakat.

Metodologi yang digunakan dalam sosialisasi adalah FGD (Focus Group Disscussion/ Diskusi terfokus) sehingga peserta tidak merasa canggung dan mudah menampung aspirasi peserta yang bermanfaat bagi pencapaian tujuan akhir sosialisasi itu sendiri.

Proses Pembentukan Kelompok Mandiri

Proses pembentukan kelompok mandiri menggunakan metode partisipatif artinya penentuan keanggotaan kelompok ditentukan oleh mereka sendiri yang tentu saja mereka yang bertempat tinggal dan mempergunakan fasilitas genset tersebut. Apabila dalam prosesnya ada KK yang keberatan bergabung maka diklarifikasi terlebih dahulu oleh fasilitator untuk mengetahui penyebabnya. Begitu pula dengan pemilihan ketua kelompok atau pengurus yang nantinya akan memegang keuangan dari kelompok ini.

Pendampingan Kelompok Mandiri Menuju Kemandirian Kelompok dan Berkesinambungan

Setelah pembentukan pengurus dan penentuan masalah keanggotaan perlu kiranya dilakukan pendampingan secara intensif sampai dianggap kelompok ini benar-benar mandiri. Pendampingan kelompok mandiri dilaksanakan melalui kegiatan pertemuan rutin kelompok dan pelatihan penguatan internal kelembagaan kelompok mandiri oleh fasilitator. Jadwal pertemuan ditentukan oleh kelompok sendiri yang disesuaikan dengan ketersediaan waktu yang luang pada masing-masing anggota kelompok.

Sasaran program pembentukan kelompok mandiri adalah meningkatkan kemandirian, kemampuan berorganisasi sekaligus memperbaiki kondisi hidup kelompok sasaran secara berkelanjutan. Pembentukan kelompok mandiri merupakan kegiatan yang mempersiapkan masyarakat agar sadar dan mampu bahwa mereka mempunyai sesuatu meskipun kecil yang apabila diberdayakan akan mempunyai manfaat yang sangat besar bagi kehidupan mereka khususnya meningkatkan kesejahteraan hidup. Pembentukan kelompok ini juga merupakan suatu proses dimana tujuan akhirnya adalah tercapainya kemandirian masyarakat.



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.